Si anak sudah berkali-kali mendengar kalimat itu
dari ayahnya, Ia bingung apakah itu janji
yang akan ditepati beliau, atau hanya sebuah nasehat
Si anak pun yakin kalau ayahnya masih punya uang
karena selama ini beliau tidak pernah mengeluh sedikitpun
lantas Si anak berfikir mengapa oh mengapa?
ayah tak membelikan mainan untukku
Si anak mengerti bahwa untuk menagih janji
ayahnya itu sangat sulit karena terhalang
oleh jadwal ayahnya yang sering bertugas
dan berbualan-bulan meninggalkan rumah
sering kali sang ayah berada dihutan berhari-hari
atau bahkan berbulan-bulan.
Hanya Ibu si anak yang akhirnya memberikan pengalihan pikiran
terhadap apa yang diinginkannya, mendengar nasehat ibu
sang anak akhirnya menyadari betapa ayahnya selalu berusaha
untuk memberi yang terbaik buat anak-anaknya
Si anak mulai berfikir dan memohon kepada Allah
agar ayahnya bisa kembali kerumah
dengan selamat dan sehal walafiat
Sering kali si anak melihat ayahnya
membawa ransel hijau penuh dengan segala perlengkapan,
satu tas coklat seperti sangsak tinju Si anak sangat penasaran
karena tak tahu apa isinya dan kilatan senjata laras panjang
seolah menghapus pikirannya untuk mendapatkan mainan
seperti teman-teman seusianya..
Pada suatu hari si anak melihat ayahnya duduk tenang dikursi
depan rumahnya, terbesit dalam pikirannya keinginan untuk membeli bola
maka datanglah anak itu kepada ayahnya dan mengutarakan maksudnya
tapi Lagi lagi ayahnya hanya tersenyum dan mengelus kepalanya
sambil mengucap kata yang sama
Sabarya nak dan Berdoalah!”.
Tak sampai 7 hari si anak mengutarakan permintaannya,
Si ayah kembali pergi dari rumah dengan ransel hijau ,
tas coklat dan senjata laras panjangnya.
si anak hanya bisa berdoa agar ayahnya kembali kerumah
dengan selamat dan sehat walafiat.
Keinginan demi keinginan akhirnya harus pergi
seiring rutinitas kepergian ayahnya yang tak menentu.
Keinginan akan semua itu telah berubah menjadi
sebentuk harapan agar sang ayah pulang dengan selamat,
membawa serta kembali nafas dalam tubuhnya
Suatu hari di sore yang terang setelah satu hari
sang ayah kembali dari tugas, Sang Ayah bertanya
kepada si anak apakah dia sudah berdoa kepada ALlah
agar mendapatkan apa yang Ia inginkan,
si anak cuma menggelengkan kepala
dan berkata " aku hanya berdoa agar ayah kembali kerumah dengan selamat".
Tampak mata Si ayah sore itu berkaca kaca
dan ia menatap si anak begitu tajamnya.
Sore itu juga sang ayah mengajak anaknya ke toko grosir
untuk mendapatkan beberapa barang
seperti jamu,obat-obatan,
batu battery,odol,sabun,minyak angin
dan banyak macam lainnya
hingga penuh tas itu dengan berbagai
macam barang yang dibelinya.
“Untuk apa ayah?” Si anak bertanya.
Dan ia menjawab dengan sigap dan penuh senyum.
“Untuk persiapan kalau ayah berangkat tugas lagi,
ayah akan jual di tempat tugas dan uangnya
bisa membeli mainan yang kamu dan adikmu minta,
selebihnya buat ibu!” jawab ayah.
Si anak baru menyadari kalu selama ini
yang ada ditas coklat mirip sangsak tinju
yang selalu ayah gendong ketika berangkat tugas
bersama ransel hijau serta senjatanya
adalah bagian dari nalurinya untuk memberikan tambahan
bagi kelurganya untuk sedikit rejeki selain dari gaji
ayah yang tak seberapa. Konsumen ayah
adalah kawan-kawannya sendiri
yang tak mungkin mendapatkan warung
ditengah hutan untuk memperoleh barang-barang
yang sepele namun sangat berguna disana.
Tak lama ketika tas coklat telah penuh,
sang ayah menggamit lengan anaknya menuju sebuah Toko
dan semua mainan yang waktu itu diinginkannya
sang ayah dengan tubuh yang sebetulnya mulai menua
menngendong tas coklat mirip sangsak dibahu kanannya
sambil membayar semua mainan dengan tumpukan uang
lusuh merah dan biru. Uang dari para tentara
yang terendam kadang dikubangan lumpur,
pematang sawah serta tampias hujan dalam tenda-tenda.
dari ayahnya, Ia bingung apakah itu janji
yang akan ditepati beliau, atau hanya sebuah nasehat
Si anak pun yakin kalau ayahnya masih punya uang
karena selama ini beliau tidak pernah mengeluh sedikitpun
lantas Si anak berfikir mengapa oh mengapa?
ayah tak membelikan mainan untukku
Si anak mengerti bahwa untuk menagih janji
ayahnya itu sangat sulit karena terhalang
oleh jadwal ayahnya yang sering bertugas
dan berbualan-bulan meninggalkan rumah
sering kali sang ayah berada dihutan berhari-hari
atau bahkan berbulan-bulan.
Hanya Ibu si anak yang akhirnya memberikan pengalihan pikiran
terhadap apa yang diinginkannya, mendengar nasehat ibu
sang anak akhirnya menyadari betapa ayahnya selalu berusaha
untuk memberi yang terbaik buat anak-anaknya
Si anak mulai berfikir dan memohon kepada Allah
agar ayahnya bisa kembali kerumah
dengan selamat dan sehal walafiat
Sering kali si anak melihat ayahnya
membawa ransel hijau penuh dengan segala perlengkapan,
satu tas coklat seperti sangsak tinju Si anak sangat penasaran
karena tak tahu apa isinya dan kilatan senjata laras panjang
seolah menghapus pikirannya untuk mendapatkan mainan
seperti teman-teman seusianya..
Pada suatu hari si anak melihat ayahnya duduk tenang dikursi
depan rumahnya, terbesit dalam pikirannya keinginan untuk membeli bola
maka datanglah anak itu kepada ayahnya dan mengutarakan maksudnya
tapi Lagi lagi ayahnya hanya tersenyum dan mengelus kepalanya
sambil mengucap kata yang sama
Sabarya nak dan Berdoalah!”.
Tak sampai 7 hari si anak mengutarakan permintaannya,
Si ayah kembali pergi dari rumah dengan ransel hijau ,
tas coklat dan senjata laras panjangnya.
si anak hanya bisa berdoa agar ayahnya kembali kerumah
dengan selamat dan sehat walafiat.
Keinginan demi keinginan akhirnya harus pergi
seiring rutinitas kepergian ayahnya yang tak menentu.
Keinginan akan semua itu telah berubah menjadi
sebentuk harapan agar sang ayah pulang dengan selamat,
membawa serta kembali nafas dalam tubuhnya
Suatu hari di sore yang terang setelah satu hari
sang ayah kembali dari tugas, Sang Ayah bertanya
kepada si anak apakah dia sudah berdoa kepada ALlah
agar mendapatkan apa yang Ia inginkan,
si anak cuma menggelengkan kepala
dan berkata " aku hanya berdoa agar ayah kembali kerumah dengan selamat".
Tampak mata Si ayah sore itu berkaca kaca
dan ia menatap si anak begitu tajamnya.
Sore itu juga sang ayah mengajak anaknya ke toko grosir
untuk mendapatkan beberapa barang
seperti jamu,obat-obatan,
batu battery,odol,sabun,minyak angin
dan banyak macam lainnya
hingga penuh tas itu dengan berbagai
macam barang yang dibelinya.
“Untuk apa ayah?” Si anak bertanya.
Dan ia menjawab dengan sigap dan penuh senyum.
“Untuk persiapan kalau ayah berangkat tugas lagi,
ayah akan jual di tempat tugas dan uangnya
bisa membeli mainan yang kamu dan adikmu minta,
selebihnya buat ibu!” jawab ayah.
Si anak baru menyadari kalu selama ini
yang ada ditas coklat mirip sangsak tinju
yang selalu ayah gendong ketika berangkat tugas
bersama ransel hijau serta senjatanya
adalah bagian dari nalurinya untuk memberikan tambahan
bagi kelurganya untuk sedikit rejeki selain dari gaji
ayah yang tak seberapa. Konsumen ayah
adalah kawan-kawannya sendiri
yang tak mungkin mendapatkan warung
ditengah hutan untuk memperoleh barang-barang
yang sepele namun sangat berguna disana.
Tak lama ketika tas coklat telah penuh,
sang ayah menggamit lengan anaknya menuju sebuah Toko
dan semua mainan yang waktu itu diinginkannya
sang ayah dengan tubuh yang sebetulnya mulai menua
menngendong tas coklat mirip sangsak dibahu kanannya
sambil membayar semua mainan dengan tumpukan uang
lusuh merah dan biru. Uang dari para tentara
yang terendam kadang dikubangan lumpur,
pematang sawah serta tampias hujan dalam tenda-tenda.


0 komentar:
Posting Komentar