Jumat, 15 April 2016

Syair Penyembuh Galau dari Imam Syafi'i

Galau sering sekali membuat manusia lupa akan dirinya, kewajibannya, atau bahkan saudaranya. Imam Syafi'i sangat memahami hal ini. Syair ini dibuat untuk menyembuhkan galau dari setiap umat manusia. Simaklah dengan baik Syair Penyembuh Galau dari Imam Syafi'i berikut ini: Biarkan hari berlalu dengan segala lakunyaLapangkan dada atas segala Takdir-Nya Janganlah gundah dengan segala derita Karena cobaan dunia hanya sementara Tangguhkan jiwa atas segala nestapa Hiasi diri dengan maaf dan sikap setiaSemua aib akan dapat tertutup dengan kelapangan dada Layaknya kedermawanan menutupi cela manusiaTak ada kesedihan yang abadi, begitupun suka riaDan tak ada pula cobaan yang kekal, begitupun riang gembiraDi depan musuh, janganlah engkau bersikap lemahKarena hinaan dari seteru adalah bencanaDan jangan pernah berharap dari kikir durjan Karena api takkan menyediakan air untuk si haus dahagaRizkimu takkan berkurang karena ditundaDan takkan bertambah karena lelah mencarinyaBila engkau punya hati qona'ah bersahajaTak ada bedanya engkau dengan pemilik duniaBila kematian sudah datang waktunyaTak ada lagi langit dan bumi yang bisa membelaIngatlah, dunia Allah sangat luas tak terhinggaTapi bila takdir tiba, angkasa pun sempit terasaMaka biarkanlah hari berlalu setiap masanyaKarena kematian tak ada obat penawarnya
(Imam Syafi'i)

Kamis, 14 April 2016

KETULUSAN HATI SEORANG AYAH

Si anak sudah berkali-kali mendengar kalimat itu
dari ayahnya, Ia bingung apakah itu janji
yang akan ditepati beliau, atau hanya sebuah nasehat

Si anak pun yakin kalau ayahnya masih punya uang
karena selama ini beliau tidak pernah mengeluh sedikitpun
lantas Si anak berfikir mengapa oh mengapa?
ayah tak membelikan mainan untukku

Si anak mengerti bahwa untuk menagih janji
ayahnya itu sangat sulit karena terhalang
oleh jadwal ayahnya yang sering bertugas
dan berbualan-bulan meninggalkan rumah
sering kali sang ayah berada dihutan berhari-hari
atau bahkan berbulan-bulan.


Hanya Ibu si anak yang akhirnya memberikan pengalihan pikiran
terhadap apa yang diinginkannya, mendengar nasehat ibu
sang anak akhirnya menyadari betapa ayahnya selalu berusaha
untuk memberi yang terbaik buat anak-anaknya
Si anak mulai berfikir dan memohon kepada Allah
agar ayahnya bisa kembali kerumah
dengan selamat dan sehal walafiat

Sering kali si anak melihat ayahnya
membawa ransel hijau penuh dengan segala perlengkapan,
satu tas coklat seperti sangsak tinju Si anak sangat penasaran
karena tak tahu apa isinya dan kilatan senjata laras panjang
seolah menghapus pikirannya untuk mendapatkan mainan
seperti teman-teman seusianya..


Pada suatu hari si anak melihat ayahnya duduk tenang dikursi
depan rumahnya, terbesit dalam pikirannya keinginan untuk membeli bola
maka datanglah anak itu kepada ayahnya dan mengutarakan maksudnya
tapi Lagi lagi ayahnya hanya tersenyum dan mengelus kepalanya
sambil mengucap kata yang sama
Sabarya nak dan Berdoalah!”.

Tak sampai 7 hari si anak mengutarakan permintaannya,
Si ayah kembali pergi dari rumah dengan ransel hijau ,
tas coklat dan senjata laras panjangnya.
si anak hanya bisa berdoa agar ayahnya kembali kerumah
dengan selamat dan sehat walafiat.


Keinginan demi keinginan akhirnya harus pergi
seiring rutinitas kepergian ayahnya yang tak menentu.
Keinginan akan semua itu telah berubah menjadi
sebentuk harapan agar sang ayah pulang dengan selamat,
membawa serta kembali nafas dalam tubuhnya

Suatu hari di sore yang terang setelah satu hari
sang ayah kembali dari tugas, Sang Ayah bertanya
kepada si anak apakah dia sudah berdoa kepada ALlah
agar mendapatkan apa yang Ia inginkan,
si anak cuma menggelengkan kepala
dan berkata " aku hanya berdoa agar ayah kembali kerumah dengan selamat".

Tampak mata Si ayah sore itu berkaca kaca
dan ia menatap si anak begitu tajamnya.
Sore itu juga sang ayah mengajak anaknya ke toko grosir
untuk mendapatkan beberapa barang
seperti jamu,obat-obatan,
batu battery,odol,sabun,minyak angin
dan banyak macam lainnya
hingga penuh tas itu dengan berbagai
macam barang yang dibelinya.

“Untuk apa ayah?” Si anak bertanya.
Dan ia menjawab dengan sigap dan penuh senyum.

“Untuk persiapan kalau ayah berangkat tugas lagi,
ayah akan jual di tempat tugas dan uangnya
bisa membeli mainan yang kamu dan adikmu minta,
selebihnya buat ibu!” jawab ayah.

Si anak baru menyadari kalu selama ini
yang ada ditas coklat mirip sangsak tinju
yang selalu ayah gendong ketika berangkat tugas
bersama ransel hijau serta senjatanya
adalah bagian dari nalurinya untuk memberikan tambahan
bagi kelurganya untuk sedikit rejeki selain dari gaji
ayah yang tak seberapa. Konsumen ayah
adalah kawan-kawannya sendiri
yang tak mungkin mendapatkan warung
ditengah hutan untuk memperoleh barang-barang
yang sepele namun sangat berguna disana.

Tak lama ketika tas coklat telah penuh,
sang ayah menggamit lengan anaknya menuju sebuah Toko
dan semua mainan yang waktu itu diinginkannya

sang ayah dengan tubuh yang sebetulnya mulai menua
menngendong tas coklat mirip sangsak dibahu kanannya
sambil membayar semua mainan dengan tumpukan uang
lusuh merah dan biru. Uang dari para tentara
yang terendam kadang dikubangan lumpur,
pematang sawah serta tampias hujan dalam tenda-tenda.

SEPUCUK SURAT DARI SETAN UNTUK UMAT MANUSIA

Aku melihatmu kemarin, saat engkau memulai aktifitas harianmu.
Kau bangun tanpa sujud mengerjakan subuhmu
Bahkan kemudian, kau juga tidak mengucapkan “Bismillah” sebelum memulai
Santapanmu, juga tidak sempat mengerjakan shalat Isha sebelum berangkat
Ketempat tidurmu
Kau benar2 orang yang bersyukur, Aku menyukainya
Aku tak dapat mengungkapkan betapa senangnya aku melihatmu tidak merubah
Cara hidupmu.

Hai Bodoh, Kamu millikku.
Ingat, kau Dan aku sudah bertahun-tahun bersama,
Dan aku masih belum bisa benar2 mencintaimu .
Malah aku masih membencimu, karena aku benci Allah.
Aku hanya menggunakanmu untuk membalas dendamku kepada Allah.
Dia sudah mencampakkan aku dari surga, Dan aku akan tetap memanfaatkanmu
Sepanjang masa untuk mebalaskannya

Kau lihat, ALLAH MENYAYANGIMU Dan dia masih memiliki rencana-rencana
Untukmu dihari depan.
Tapi kau sudah menyerahkan hidupmu padaku,
dan aku akan membuat kehidupanmu seperti neraka.
Sehingga kita bisa bersama dua kali dan ini akan menyakiti hati ALLAH

Aku benar-benar berterimakasih padamu, karena aku sudah menunjukkan kepada
NYA siapa yang menjadi pengatur dalam hidupmu dalam masa2 yang kita jalani
Kita nonton film porno bersama, memaki orang, mencuri, berbohong, munafik,
makan sekenyang-kenyangya, guyon2an jorok, bergosip, manghakimi orang,
menghujam orang dari belakang, tidak hormat pada orang tua ,
Tidak menghargai Masjid, berperilaku buruk.
TENTUNYA kau tak ingin meninggalkan ini begitu saja.

Ayolah, Hai Bodoh, kita terbakar bersama, selamanya.
Aku masih memiliki rencana2 hangat untuk kita.
Ini hanya merupakan surat penghargaanku untuk mu.
Aku ingin mengucapkan ‘TERIMAKASIH’ karena sudah mengizinkanku memanfaatkan
hampir semua masa hidupmu.
Kamu memang sangat mudah dibodohi, aku menertawakanmu.
Saat kau tergoda berbuat dosa kamu menghadiahkan tawa.

Dosa sudah mulai mewarnai hidupmu.
Kamu sudah 20 tahun lebih tua, dan sekarang aku perlu darah muda.
Jadi, pergi dan lanjutkanlah mengajarkan orang-orang muda bagaimana berbuat dosa.
Yang perlu kau lakukan adalah menggunakan narkoba, mabuk-mabukan, berbohong, berjudi,
bergosip, dan hiduplah se-egois mungkin.
Lakukan semua ini didepan anak-anak dan mereka akan menirunya.
Begitulah anak-anak .

Baiklah, aku persilahkan kau bergerak sekarang.
Aku akan kembali beberapa detik lagi untuk menggoda mu lagi.
Jika kau cukup cerdas, kau akan lari sembunyi, dan bertaubat atas dosa-dosamu.
Dan hidup untuk Allah dengan sisa umurmu yang tinggal sedikit.
Memperingati orang bukan tabiatku, tapi diusiamu sekarang dan tetap
melakukan dosa, sepertinya memang agak aneh.

Jangan salah sangka, aku masih tetap membencimu.
Hanya saja kau harus menjadi orng tolol yang lebih baik dimata ALLAH.

ORANG YANG TERLUPAKAN

Ada sedikit renungan tentang orang2 yang terlupakan
renungan ini diambil dari surah Thaha: 124-126
banyak hikmah yang dapat kita ambil dari ayat ini
hikmah yang insya Allah menginspirasi kita
untuk terus mendekatkan diri
& bertaqwa kepada Allah SWT

Mereka yang melupakan ayat-ayat Allah SWT
yang tertera dalam Al-Quran
dan mencari hidayah dari selain Allah SWT

maka tidak akan ada ketenangan
di dalam hati dan jiwanya
melainkan hatinya
akan semakin sempit akibat kesesatan
demi kesesatan yang memenuhi ruang hatinya

orang-orang yang seperti itu
akan melakukan apa saja
yang bisa membuatnya bahagia,
memakan apa yg mereka inginkan
tidak kenal halal atau haram,
semuanya mereka lakukan
atas nama nafsu duniawi
yang membawanya
terus menjauh dari hidayah
Tuhan yang maha kuasa

Mereka yang tidak pernah
menyadari pentingnya ayat-ayat Allah ,
pada hari kiamat nanti menjadi
orang buta yang tidak tahu kemana harus melangkah

walau didunia kedua matanya masih bisa melihat
tapi diakhirat ke-2 mata itu tak lagi berguna
begitulah mereka menjadi bagian
dari orang yang terlupakan
sebagaimana mereka melupakan
hari pembalasan Tuhan

Allah SWT berfirman dalam Al-Quran
yang terjemahannya sebagai berikut:

“Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku,
maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit,
dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat
dalam keadaan buta.

Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau
menghimpunkan aku dalam keadaan buta,
padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?

” Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu
ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula)
pada hari ini kamupun dilupakan.”

(QS. Thaha [20] : 124 -126).

PERTEMUAN YANG MENYADARKAN


Musim dingin telah hadir dan Sadi pun
menjalani rutinitasnya sebagai mahasiswa
Suatu hari, Sadi pulang dari kampus
tanpa memakai jaket dan sepatu yang lumrah
dipakai pada musim dingin.
Sadi yang kedinginan saat itu
berhenti di sebuah mesjid untuk solat ashar

Sesampainya Di Mesjid.
Sadi langsung menuju tempat wudhu

semua orang yang sembahyang di mesjid itu
tampak begitu akrab dengan Sadi.
Sebelum Mengambil Air wudhu, Sadi melihat
sepatunya yang kotor begitu pula kaus kakinya
yang sudah tidak enak dilihat lagi, dengan kesal
sadi melempar sepatunya di samping rak sepatu mesjid

Tidak disangka, sadi melihat seorang Pak tua
disampingnya sedang berwudhu, pak tua
yang hanya memiliki satu kaki itu pun terlihat
begitu tenang mengambil air wudhu
seperti tidak ada yang lain dari dirinya.

Sadi yang melihat itu merasa begitu malu
malu kepada diri sendiri dan kepada Allah SWT
karena selama ini Sadi sering sekali mengeluh
dan merasa bahwa dialah orang yang paling menderita
di dunia ini.

Betapa tidak, Sadi yang khawatir
dengan sepatu kotornya saja
hanya bisa marah dan kesal.
Sedangkan Pak tua itu tampak
begitu tenang dan  nyaman
terhadap kondiisinya yang seperti itu

Mungkin saja Pak tua itu mempunyai banyak uang
untuk membeli sepatu, Tapi uang bukanlah
segalanya dalam hidup ini.
karena seberapa banyak pun uang
yang dimiliki seseorang
tidak akan mampu membeli nikmat
mempunyai anggota tubuh kita
yang lengkap ini.

RESTU ORANG TUA YANG TAK TERNILAI


Dikisahkan ada Orang tua yang tidak lagi memiliki pekerjaan karena usianya yang tidak produktif lagi untuk berkerja.  Dia sudah kehilangan kekuatannya
dan juga penglihatannya. Bahkan dia tidak bisa memegang sendok makan dengan benar, tak jarang dia menjatuhkan banyak makanan di lantai
dari pada memasukkan makanan ke dalam mulutnya.Anak tertuanya dan menantunya selalu mengingatkan orang tua itu agar berhati-hati ketika makan.sering sekali mereka berdua marah-marah kepada
orang tua itu apa lagi ketika makanan tercecer di lantai hingga akhirnya sang anak dan menantunya memutuskan untuk memisahkan meja makan mereka
dan orang tua itu.Cucunya yang bernama Hasan sangat sedih melihatapa yang dilakukan kedua orang tuanya itu.maka terbesitlah dalam hatinya untuk memberi kedua orang tuanya pelajaran secara bijak yang mudah-mudahan bisa membuat mereka berdua sadar atas kesalahan mereka itu. Suatu hari, Saat makan bersama keluarganya Sang Orang tua mereka secara tidak sengaja menjatuhkan piringnya. Maka tampaklah wajah amarah putranya dan menantunya itu. mereka berdua pun mengomeli sang orang tua hingga sakitlah hati orang tua yang tidak lain adalah ayah mereka.
Pada Suatu hari, Sang anak dari orang tua yang sudah tua itu melarang sang istri untuk tidak meletak buah-buahan di dalam piring plasik, dan menyuruhnya untuk membuang semua piring pelastik milik
mereka ke tong sampah.Saat itu juga anaknya Hasan menggambil 2 piring pelastik yang telah dibuang ibunya di tong sampah. Melihat sang anak mengambil piring itu lagi dia pun bingung. Melihat kebingungan ibunya, hasan pun berkata," Wahai Ibu aku mengambil 2 piring pelastik ini
untuk ayah dan ibu ketika sudah tua nanti sebagaimana ayah dan ibu memperlakukan kakek seperti itu".Ayah dan ibu Hasan pun merasa malu atas apayang mereka lakukan kepada orang tuanya.Mereka pun mengajak kembali orang tuanya
untuk kembali makan satu meja dengan keluarnya

3 GAYA WANITA YANG TIDAK MENCIUM BAU SURGA

1. Wanita yang berpakaian tetapi telanjang
Ada beberapa tafsiran yang disampaikan oleh Imam Nawawi.

-  Wanita yang mendapat nikmat Allah , namun enggan bersyukur kepada Nya. 
- Wanita yang menutup sebahagian tubuhnya dan menyingkap sebahagian lain.
- Wanita yang memakai pakaian yang tipis yang menampakkan bentuk tubuhnya.

2. Wanita yang maa-ilaat wa mumiilaat.
Ada beberapa tafsiran mengenai hal ini ..

- Maa-ilaat yang dimaksudkan adalah tidak taat pada Allah dan tidak mahu menjaga yang mesti dijaga. Mumiilaat yang dimaksudkan adalah mengajar yang lain untuk berbuat sesuatu yang tercela.
- Maa-ilaat adalah berjalan sambil memakai wangi-wangian dan mumilaat iaitu berjalan sambil menggoyangkan kedua punggung atau bahunya.
- Maa-ilaat yang dimaksud adalah wanita yang biasa menyisir rambutnya sehingga bergaya sambil berlenggok bagai wanita nakal. Mumiilaat yang dimaksud adalah wanita yang menyisir rambut wanita lain supaya bergaya seperti itu.

3. Wanita yang kepalanya seperti bonggol unta.
maksudnya adalah wanita yang sengaja memperbesar kepalanya dengan mengumpulkan rambut di atas kepalanya seakan-akan memakai serban.


Keterangan lebih lanjut: Lihat Syarh kitab Shahih Muslim, terbitan Dar Ibnul Jauzi, 14: 98-99).
 
Template designed by Liza Burhan